poétesse
setiap orang adalah filsuf yang berfilsafat (setidaknya) tentang kehidupannya sendiri
setiap orang adalah filsuf yang berfilsafat (setidaknya) tentang kehidupannya sendiri
Sudah lama sekali tidak mengisi tumblr ini dengan curhatan super rahasia. Pertama-tama, this is a though week. Yes, it is. Pertama karena saya gagal (untuk kedua kalinya) dalam sebuah test bekerja di perusahaan yang cukup saya favoritkan, kedua saya gagal test intern (di perusahaan yang sama) karena error pada server, di hari terakhir tenggat masa test. Bukan keaadaanlah yang boleh disalahkan, tetap ketidaksiapan saya dan hobi menunda pekerjaan. Si penyuka titik akhir, membuat saya jadi suka melakukan segalanya dekat deadline karena “nggampangke”.
Ya sudahlah. Mau menangis sampai tahun depan pun tak akan mengubah keadaan. Saya memang harus banyak “berbenah”.
Saya baru sadar, fokus adalah hal tersulit bagi saya. Yang kedua, konsistensi. Atau kebalik ya hehe. Sulit sekali untuk fokus pada apa yang saya mau, dan terus melakukan sesuatu untuk menuju hal tersebut, tanpa terdistraksi hal-hal di luar sistem. Alhasil, setiap yang dilakukan justru malah tidak maksimal. Terlalu oportunis kadang membuat workload yang dihadapi melampaui kapasitas. Kadang hal itu baik, tetapi kadang sama sekali tidak membahagiakan. Seringkali saya merasa berlari untuk hal yang justru jadi point less di akhir, karena memang saya sudah menyimpang dari garis yang sudah dipancangkan di awal. Prit!! Kartu merah, Anda tidak fokus! Dan lebih sedihnya adalah “kemarukan” untuk melakukan banyak hal kadang menyita waktu saya bersama keluarga dan sahabat, padahal saya selalu menikmati waktu terbaik bersama mereka. Kedua, konsistensi. Mungkin kata tersebut tidak akan pernah dapat mewakili diri saya yang turbulensinya tinggi. Pun demikian, saya tidak dapat menyalahkan keinkonsistenan tersebut. Karena pikiran dan rasa tidak dapat diajak berbohong, dan saya tidak mau bohong. Pembelajaran baru sering kali membawa saya ke “tempat lain”.
Pertanyaan terbesar lainnya minggu ini adalah. Am I a good daughter? Am I a good sister? dan Am I a good friend?
Aneh sekali pertanyaannya. Yang pertama karena beberapa waktu ini saya mendapat teguran keras orang tua karena dianggap kurang perhatian. Kedua, saya merasa jauh dari adik, setelah tersadar sendiri dan membaca postingan seorang sahabat tentang ulang tahun adiknya. Ketiga karena saya merasa seringkali jauh tiba-tiba dengan sahabat. Absurd, absurd.
Pertanyaan besar berikutnya adalah, kapan terakhir saya mengaji? Sebuah kegiatan yang seringkali membuat saya tenang. Bahkan selalu. Dan salah satu indikator bagaimana kita memikirkan Tuhan di sela sibuk memikirkan hal duniawi lainnya. Mungkin itu jawaban dari berbagai kegamangan saya akhir-akhir ini. Keimanan kadang nai turun, dan saya sedang diingatkan untuk memperbaiki diri.
Minggu ini sangat berat, saya berdoa semoga dapat menyelesaikannya dengan sebuah senyum dan hati dan damai. Sesementara apapun itu.
Sebuah frasa yang saya nobatkan untuk diri sendiri. Di tengah muaknya diri atas berbagai rencana yang jadi mitos belaka, serta huru-hara kepulan semangat yang kadang padam sebelum uap berguna menyajikan bahkan semangkuk mi instan yang hangat.
Kehidupan sosial adalah candu, yang membuat saya berjuta kali merasa lebih baik karena dikelilingi kawan yang tulus. Sebaliknya, ia adalah serangan bagi diri yang secara sadar membiarkan ketidakbahagiaan hinggap. Tatanan sosial menjadi barometer tentang arti sukses, deskripsi gagal, dan makna bahagia.
Kontemplater hebat, seperti namanya begitu mencintai kegiatan kontemplasi. Menilik makna diri, mempertanyakan persoalan kehidupan. Namun kontemplater diam di tempat, selama perenungan hanya bermakna kontemplasi.
Dua hal, pertama kontemplater harus bergerak. Bahkan berlari. Kedua, kontemplater mesti konsisten, bahwa tatanan sosial tak akan merenggut kebahagiaan yang sebenarnya memang benar dan ada. Tak akan merasakan kesedihan dari sebuah ketiadaan. Ketiadaan akan hal yang perlu dipersedihkan.
Lama banget saya nggak nulis, dan malam ini saya ingin melakukannya. Saya tahu tulisan ini nggak akan ada yang baca, karena akun ini tersembunyi. Saya hanya tahu bahwa saya akan mendokumentasikannya, sehingga perasaan saat ini bisa terekam, untuk jadi bahan saya bersyukur di waktu mendatang saat hati lebih stabil.
Besok pagi, ibu saya akan ke Surabaya sampai Sabtu. Di saat sperti ini sebenarnya saya tidak ingin ibu pergi. Ya, walaupun sudah biasa seperti ini karena memang beliau sebenarnya tak tinggal di Jogja. Tapi saya ingin ibu ada disini besok pagi. Meskipun kadang kami tak banyak bercakap-cakap, saya sering pulang malam, sehingga membiarkannya disini sangatlah egois. Saya ingin besok pagi ibu saya ada di rumah ini, membiarkan rumah ini bersuara saat saya bangun, hanya untuk meyakinkan saya bahwa tak ada sesuatu yang buruk terjadi, dan semua akan baik-baik saja.
Belakangan ini saya memikirkan pertanyaan tentang apa sebenarnya bahagia itu. Bahagia yang menjadi alasan jutaan orang di dunia untuk hidup dengan berbagai cara. Saya sedang diet, tidak makan nasi (malam ini terlanggar) dan tidak mengemil, dan ini bagi saya satu cara untuk bahagia. Saya sudah tak nyaman dengan perut buncit dan baju-baju yang makin sempit. Bahagia adalah (mungkin) punya pasangan (yang jelas) #eaaa sebenernya saya gak paham maksud dari hashtag itu. Saya merasa sering sekali merasakan short-term happiness, kurang paham apakah hal tersebut beriringan dengan long-term sadness. Oh Tuhan, apa hambamu ini kurang bersyukur.
Saya seringkali sendirian akhir-akhir ini. Saya gak anti akan hal itu, tapi kadang kasihan juga sama diri sendiri. Hampir setiap hari saya makan siang sendirian, tentunya sarapan dan makan malam juga sendirian, tetapi di rumah. Alasannya adalah karena saya sedang mengejar banyak hal belakangan ini. Ceritanya ingin meningkatkan kualitas diri, sehingga selalu mengalokasikan waktu (berusaha dengan disiplin) pada hal-hal memberi saya sarana untuk belajar. Dan, banyak jadwal saya yang gak singkron dengan sahabat dekat, mereka beberapa juga cukup sibuk dengan kegiatan masing-masing. Jadi, hal ini logis.
Kadang saya bertanya-tanya dalam hati, apa yang sebenarnya saya cari. Kebahagiaan? Ilmu? Kontribusi? Saya begitu ingin kuliah di Prancis atau Inggris, untuknya saya les bahasa Prancis dan mengejar score english proficiency test mati-matian. Seselesainya dari sana, saya ingin jadi dosen. Saya berpikir, apakah saat berhasil jadi dosen atau sekolah di Prancis, saya akan mendadak bahagia? Entahlah..
Barusan saya keluar kamar untuk makan malam, di sebelah ibu saya yang sedang tidur. Tiba-tiba ingat bahwa dulu saat kecil setiap malam saya diharuskan belajar untuk pelajaran besok hari, dan mengerjakan semua PR dengan sempurna. Menjemukan dan mengekang, tetapi saya bahagia. Gak tahu juga, apakah itu benar-benar bahagia atau saat menjadi kenangan jadi bahagia. Untuk apa kenangan bahagia kalau real life-nya enggak.
Pada akhirnya, saya merindukan seseorang, para sahabat, ketawa-ketawa, dan puluhan pelukan. Bukan untuk (lagi-lagi) menceritakan tentang masalah saya, tetapi membuat saya bahagia. Karena masalah itu sebenarnya bukan masalah, hanyalah kesedihan dan ketidak-ikhlasan yang meradang. Alhamdulillah.